NURANI RAKYAT. Mataram — Ketua Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI), Lalu Kusnawan, menegaskan pentingnya sertifikasi bagi para seniman keris di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan daya saing di tengah perkembangan dunia seni yang semakin kompetitif. Penegasan tersebut disampaikan di sela-sela kegiatan Upakara Panca Wali Keris, dalam rangka memperingati 20 tahun pengakuan keris sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, di Gedung Roarasa, Rembiga, Mataram, Rabu, 25 November 2025.
Lalu Kusnawan menjelaskan bahwa sertifikasi bukan sekadar dokumen formal, melainkan bukti kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Dengan sertifikasi, para seniman keris akan lebih mudah memperoleh kepercayaan publik, khususnya dari penikmat seni, kolektor, serta para pemangku kepentingan di industri kebudayaan.
“Dengan sertifikasi, seniman memiliki standar yang jelas. Ini meningkatkan kredibilitas dan membuat publik lebih yakin terhadap karya yang dihasilkan,” ujarnya.
Selain meningkatkan kepercayaan masyarakat, sertifikasi juga membuka peluang karier yang lebih luas. Banyak program pendanaan, pameran, hingga kompetisi skala nasional dan internasional kini mensyaratkan adanya pengakuan kompetensi bagi pesertanya.
“Banyak kesempatan besar terbuka bagi seniman yang tersertifikasi, termasuk akses terhadap proyek-proyek seni besar, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tambahnya.
Dari sisi regulasi, sertifikasi diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan pemerintah di bidang ekonomi kreatif dan pelestarian budaya. Beberapa skema pendanaan resmi mensyaratkan legalitas kompetensi agar proses kurasi lebih terukur dan transparan.
Ia menambahkan bahwa sertifikasi juga mendorong seniman untuk terus berkembang. Proses uji kompetensi membuat para pelaku seni terbiasa memperbarui teknik, membaca tren baru, serta meningkatkan kualitas artistik.
“Ini bukan hanya tentang pengakuan, tetapi juga tentang pengembangan diri berkelanjutan,” katanya.
Dalam dinamika dunia seni yang terus berubah, SNKI memandang sertifikasi sebagai langkah penting untuk memastikan seniman keris NTB mampu bersaing dan memperoleh ruang di tingkat nasional maupun global. Karena itu, Lalu Kusnawan mengajak seluruh seniman mulai mempertimbangkan sertifikasi sebagai investasi masa depan.
“Jika ingin diakui secara global dan berkarier lebih jauh, sertifikasi adalah jalan yang paling tepat,” ujarnya menutup pernyataan.
Sertifikasi seniman keris dapat diperoleh melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Perkerisan Indonesia yang telah berlisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Melalui skema tersebut, para seniman tidak hanya memperoleh pengakuan kompetensi, tetapi juga akses pada ekosistem pembinaan yang lebih terstruktur.
Ekosistem pembinaan itu mencakup pendampingan teknis, pemetaan keahlian, serta peluang keterlibatan dalam berbagai program strategis nasional. Dengan sistem yang sistematis, seniman keris memiliki ruang untuk terus mengasah kemampuan sekaligus memperluas jejaring profesional.
Dengan keterlibatan aktif dalam jalur sertifikasi, seniman keris NTB diharapkan tidak hanya mempertahankan nilai-nilai tradisi, tetapi juga mampu memproyeksikan karya mereka agar lebih adaptif dan relevan di tengah perubahan lanskap kebudayaan modern.
Pada akhirnya, sertifikasi menjadi jembatan yang menghubungkan warisan leluhur dengan tuntutan profesionalisme masa kini—menyatukan kekuatan tradisi dengan kebutuhan dunia seni yang terus berkembang.(*)
Nurani Rakyat Bicara Apa Adanya