Ratusan Pengrajin Perempuan Jaga Warisan Leluhur, Dorong Ekraf dan Pariwisata Berbasis Komunitas Tembus Pasar Global
NURANI RAKYAT. LOMBOK TENGAH – Jika kebudayaan diukur dari ketekunannya bertahan, maka Desa Beleka adalah salah satu jawabannya. Di bawah langit Praya Timur yang teduh, ratusan perempuan duduk bersila dalam satu hamparan kebersamaan. Bukan sekadar berkumpul, jemari mereka menari di atas serat ketak dan penyalin, mengubah bahan mentah dari alam menjadi karya bernilai ekonomi global. Itulah Begawe Ngulat.
Begawe Ngulat bukan festival seremonial. Ia adalah deklarasi budaya. Sebuah penegasan bahwa Desa Beleka, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, tidak hanya menjaga warisan, tetapi merayakan dan menggerakkan warisan itu sebagai motor ekonomi kreatif.
Festival budaya dan kreatif pertama ini dibuka resmi oleh Asisten II Sekretariat Daerah Lombok Tengah, Drs. Lalu Rinjani, M.Si., yang mewakili Bupati. Pemukulan beduk secara simbolis yang didampingi Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Hatta, dan jajaran Forkopimda, menjadi penanda dukungan penuh pemerintah daerah terhadap kebangkitan ekraf dari desa.
Dalam sambutannya, Lalu Rinjani menegaskan posisi Beleka yang telah melampaui batas-batas lokal.
“Desa Beleka sejak lama dikenal bukan hanya di NTB, tapi secara nasional sebagai salah satu sentra anyaman tradisional paling otentik. Di tangan masyarakatnya, bahan alami sederhana seperti ketak dan penyalin bertransformasi menjadi karya yang memukau. Mulai dari anyaman murni, perpaduan elegan dengan gerabah, hingga produk fashion dan home decor yang memiliki nilai seni dan ekonomi luar biasa,” tegasnya.
Pernyataan itu mengafirmasi transformasi Beleka. Anyaman yang dulu sekadar aktivitas domestik untuk kebutuhan rumah tangga, kini telah menjelma menjadi industri kreatif yang terstruktur, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Inti Begawe Ngulat adalah narasi keberlanjutan. Keterampilan ngulat diwariskan turun-temurun, dari ibu ke anak perempuan, dari generasi ke generasi. Namun kini, maknanya meluas.
Karya-karya Beleka tidak lagi hanya beredar di pasar domestik. Tas, topi, dan dekorasi rumah hasil tangan perempuan Beleka telah menembus pasar mancanegara diekspor ke Eropa, Jepang, dan Amerika sebagai produk sustainable dan eco-friendly yang diburu pasar global. Inilah diplomasi budaya yang paling jujur, mengubah kearifan lokal menjadi komoditas global tanpa kehilangan jiwanya.
Kecerdasan Begawe Ngulat terletak pada kemasannya sebagai atraksi wisata. Beleka kini tidak hanya menjual produk, tetapi menjual pengalaman.
Puluhan art shop yang tersebar di penjuru desa dibuka untuk wisatawan. Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli, tetapi diajak melihat langsung proses ngulat, belajar menganyam, dan berinteraksi dengan para maestro pengrajin. Konsep community-based tourism ini menempatkan wisatawan bukan sebagai konsumen, melainkan sebagai bagian dari cerita pelestarian.
Di tengah gempuran pariwisata massal, Beleka menawarkan alternatif yang lebih bermakna: pariwisata yang beretika, berakar, dan memberdayakan.
Pada akhirnya, Begawe Ngulat adalah penanda identitas. Ia menegaskan Beleka sebagai Desa Wisata Pengrajin yang paripurna desa yang menjaga tradisi sebagai napasnya, dan menggerakkan ekonomi kreatif sebagai masa depannya. Dari sehelai ketak, Beleka merajut harapan Lombok Tengah. (*/Galih)
Nurani Rakyat Bicara Apa Adanya