SUMMIT-OUCRU Perkuat Surveilans Genomik Klebsiella di RSUD Praya, Kembangkan Sistem Deteksi Dini Risiko Ibu Hamil

NURANI RAKYAT. Lombok Tengah – RSUD Praya menjadi salah satu lokasi penguatan surveilans genomik melalui CAGED Project, sebuah inisiatif kolaboratif yang mencakup wilayah Asia-Pasifik dan Afrika.

Chief Operating Officer Summit Institute for Development (SUMMIT), Lia Rosida, S.Pd, M.Dev.St, mengatakan CAGED berfokus pada penguatan kapasitas surveilans genomik serta penerjemahan informasi genomik menjadi langkah yang dapat ditindaklanjuti dalam bidang kesehatan masyarakat.

“CAGED Project merupakan inisiasi dari Summit Institute for Development yang bekerja sama dengan OUCRU Indonesia. Di RSUD Praya, salah satunya melalui surveilans Klebsiella pneumoniae (Kpn),” jelas Lia via saluran telekomunikasi, kamis (17/09/2026).

Menurut Lia, Kpn merupakan patogen penting yang dapat berkontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas, terutama pada kelompok rentan seperti neonatus yang dirawat di NICU dan ibu pasca persalinan melalui seksio sesarea. Melalui surveilans ini, CAGED mendukung pemantauan pola infeksi dan resistensi antimikroba serta pemahaman potensi transmisi.

“Dengan mengintegrasikan surveilans genomik, pemantauan klinis, koleksi sampel, serta tindak lanjut postpartum berbasis komunitas, CAGED Project di RSUD Praya diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai beban dan pola infeksi, termasuk infeksi yang berkaitan dengan Kpn,” paparnya.

Selain CAGED, Lia mengungkapkan kerja sama baru yang sedang diinisiasi dengan RSUD Praya, yakni Early Risk Detection – Promising Project.

“Kerja sama ini berfokus pada deteksi dini risiko pada ibu hamil dan persalinan. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko sejak awal, termasuk menentukan apakah seorang ibu dapat melahirkan di Puskesmas atau memerlukan rujukan ke rumah sakit,” ujar Lia.

Deteksi risiko sejak dini ini, lanjut Lia, berpotensi membantu mengantisipasi meningkatnya jumlah ibu hamil dengan risiko tinggi maupun persalinan berisiko yang membutuhkan penanganan di rumah sakit, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam perencanaan persalinan.

Namun, ia menegaskan bahwa program ini masih berada pada tahap inisiasi yang sangat awal.

“Saat ini, tim masih dalam proses pengembangan dan melihat bagaimana pendekatan tersebut dapat diimplementasikan ke depannya,” tutup Lia.)*/Galih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *